Hidup ini bukan geratisan namun dibayar degan membagi berbagai kebaikan saat ini dan yang akan datang
Selasa, 27 Desember 2011
Black Box of Education
If we compare the education of an airplane's black box seemed to have in class. It is very complex problems experienced by our education ranging from simple to complex.Various
suggestions, guidance, advice and other similar words, in order to
direct any person to keep doing and act honestly (Siddiq). Looks like a lot of examples that we can make reference to how we apply the importance of honesty. The
word honest it is not foreign to us but sometimes he sacrificed and
exchanged with the reverse in the interest of the offender to something
that is temporary and superficial.As
an illustration of what is said above, in education for example, there
are learners do not force yourself to be honest through the activities
of cheating, just expect a good value that it can not necessarily afford
him, even though activity has been known to cheat it is not true. Furthermore,
there are learners do not dare say he does not understand the teacher's
explanations, just as shy as his friend, did not dare say he could be
just as ashamed of other people, do not dare say "forgive me father I
have not been able to" please help me only, because of inadequate as his friend, did not dare look at her friend for fear of tau will could not be said and others.Because
of the shame that haunted them then, as sometimes there is a path
completion to take shortcuts by swapping the right thing by the act that
is not true. Uncontested
by us that the person acted honestly would behave more polite, daring
to say what it is, does not have a psychology and other expenses.If
someone does dishonesty only justification for a moment, that is not
necessarily justified by others, would have given the space on her
behavior, which was originally occupied by the positive behaviors and
replaced by the behavior of his opponent. Replacement
behaviors such as: the existence of guilt, self-deception, deceiving
others, providing false data and did not dare to say what it is and
others. If
the behavior is really happening in our students we can say that it is
very expensive at the price of dishonesty that until we traded good
becomes bad, swapping a sense of security becomes insecure, confident
swapping becomes insecure, a health exchange unhealthy, self-exchange rates with the answer that is not necessarily true and others.Dishonest behavior displayed by some students certainly do not stand alone. There
are other things that accompany that activity of for example; of
educators when the invigilator, sometimes not oversee the participant's
test but keep an eye on the school grounds. Tau learners eg cheating allowed to make mistakes as if do not know. Besides,
if there are students educators sometimes get low marks directing or
aiming error was all to students, rarely directs that mistake
yourself. A
wise educator will say "excuse me son you have not been able to deliver
lessons to master the father yau", although in essence we would say
learn even harder. Beside
that excessive fear of some educators that learners' inability worrying
too much, so was forced to step in helping the proper to finishing
learners.If
our learners are not able to treat the disease is not honest (Siddiq)
is certainly very difficult to achieve planting the nation's character
and national character that exists only in imagination only or even the
existence of the paper only. Follow the next publication sate MLE and honesty.
Selasa, 13 Desember 2011
Kotak Hitam Pendidikan
Berbagai saran, arahan, petuah dan lain yang sejenis dengan kata tersebut, guna mengarahkan setiap orang untuk tetap berbuat dan bertindak jujur (siddiq). Sepertinya banyak contoh yang dapat kita jadikan rujukan akan betapa pentingya kita menerapkan kejujuran itu. Kata jujur itu sudah tidak asing bagi kita tetapi terkadang dia dikorbankan dan ditukar dengan kebalikannya demi kepentingan pelaku untuk sesuatu yang bersifat sementara dan semu.
Sebagai ilustrasi dari apa yang di ungkap di atas, dalam dunia pendidikan misalnya, ada peserta didik memaksa diri untuk berbuat tidak jujur lewat kegiatan mencontek, hanya mengharafkan nilai baik yang belum tentu itu dapat diraihnya, padahal kegiatan mencontek itu telah diketahui tidak benar. Selanjutnya ada peserta didik tidak berani mengatakan dirinya belum mengerti dari penjelasan guru, hanya karena malu sama temannya, tidak berani mengatakan dirinya bisa hanya karena malu pada orang lain, tidak berani mengatakan "maafkan saya bapak saya belum bisa" tolong bantu saya hanya, karena minder sama temannya, tidak berani mencari tau pada temannya lantaran takut nanti dikatakan tidak bisa dan lalinnya.
Karena rasa malu yang menghantui mereka maka, sebagai jalan penyelesainnya terkadang ada yang mengambil jalan pintas dengan menukar perbuatan yang benar oleh perbuatan yang tidak benar. Tidak terbantahkan oleh kita bahwa orang yang bertindak jujur akan berberilaku lebih santun, berani berkata apa adanya,tidak memiliki beban mental, kata para muballig, kiyai, tuan guru, pendeta, uskup, pedande, bante dan juga tersebar di buku agama, buku pelajaran, buku psikologi dan lainya.
Jika seseorang melakukan ketidakjujuran hanya untuk memperoleh pembenaran sesaat, yang belum tentu dapat dibenarkan oleh orang lain, tentu telah memberi ruang prilaku tersebut pada dirinya, yang sedianya telah terisi oleh perilaku positip dan diganti oleh prilaku lawannya. Prilaku yang pengganti seperti: adanya perasaan bersalah, membohongi diri sendiri, membohongi orang lain, memberikan data palsu dan tidak berani berkata apa adanya dan lainnya. Jika perilaku itu benar-benar terjadi pada anak didik kita dapat kita katakan bahwa sungguh sangat mahal sekali harga ketidak jujuran itu samapai sampai kita menukar yang baik menjadi tidak baik, menukar rasa aman menjadi tidak aman, menukar percaya diri menjadi tidak percaya diri, menukar kesehatan menjadai tidak sehat, menukar harga diri dengan jawaban yang belum tentu benar dan lainnya.
Perilaku ketidakjujuran yang ditampilkan oleh sebagian peserta didik tentu tidak berdiri sendiri. Ada hal lain yang ikut mendampingi kegitan itu misalnya; dari pendidik ketika menjadi pengawas ujian, terkadang bukan mengawasi peserta yang sedang ujian tetapi mengawasi halaman sekolah. Tau peserta didik melakukan kesalahan umpamanya mencontek dibiarkan seolah-olah tidak tau. Disamping itu jika ada peserta didik mendapatkan nilai rendah terkadang pendidik mengarahkan atau membidikkan kesalahan itu seppenuhnya kepada peserta didik,jarang sekali mengarahkan kesalahan itu pada diri sendiri. Pendidik yang bijak akan mengatakan "maafkan saya nak bapak belum mampu mengantarkan ananda untuk menguasai pelajaran bapak", meskipun pada intinya kita akan mengatakan belajar lebih giat lagi. Selain itu pula rasa ketakutan yang berlebihan dari beberapa pendidik yang menghawatirkan ketidak mampuan peserta didik yang berlebihan, sehingga terpaksa turun tangan ikut membantu yang semestinya diselesain peserta didik.
Jika peserta didik tidak mampu kita obati dari penyakit tidak jujur(siddiq) itu tentu sangat sulit akan tercapainya penanaman karakter bangsa dan karakter bangsa itu hanya ada di angan-angan saja atau bahkan adanya di kertas saja. Ikuti publikasi berikutnya SATE MLE dan kejujuran.
Minggu, 11 Desember 2011
Dokter dan Prawat ada di Kelas
Oleh: Akmaludin M.Pd
Meminjam istilah " Mensana Engkor Presana", lebih diartikan sebagai di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitulah pepatah yang sering terucap. Namun kenyataanya tidaklah selamanya pepatah ini menunjukkan kebenaran.
Dalam dunia pendidikan sekarang ini umpamanya, berbagai penyakit yang sedang dialami peserta didik, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa semakin hari peserta didik menunjukkan angka kesehatan meningkat, hal ini dikatakan oleh mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan. Bahkan pemerintah NTB saat ini misalnya mencanangkan gerakan angka kemiskinan nol, angka kematian nol dan angka drop out nol dan lainnya, hal ini menunjukkan betapa angka kesehatan telah menjadi perioritas para pengambil kebijakan.
Program semacam itu sepertinya menjadi bagian dari pembenaran mensana engkor presana, untuk pendidikan, dengan mudahnya dijumpai dalam kelas sejumlahk peserta didik kita yang bertubuh kekar, berbadan tegap, berparas gagah, tampan, cantik, molek, ayu dan peredikat lainnya yang serupa. Tetapi ada hal yang kelihatannya terabaikan oleh penelisikan kita, mengenai penyakit yang sedang menghantui peserta didik hampir di setiap sekolah di tanah air tercinta. .Penyaki yang dimaksud yaitu kurangnya rasa percaya diri dari peserta didik, yang setidaknya pengingkaran dari pepatah tersebut di atas.
Jika rasa percaya diri dari setiap peserta didik tidak tertanam dengan kuat, akan berimbas pada perilaku, yang kurang pas untuk dunia pendidikan seperti: perilaku mencontek, saling memberi jawaban ketika ujian, saling memberi jawaban lewat sms, jawaban sudah benar tetapi dihapus, keraguan yang berlebihan atas ketidak mampuan menjawab soal, ketakutan yang tak beralasan atas ketidaklulusan dan lainya. Penyakit besar ini menjadi menjadi tugas pendidik tangani di zaman ini. Tentu tugas ini sangatlah berat dan memerlukan keteladanan juga karakter yang kuat dari seorang pendidik. Obat dari penyakit pendidikan di zaman sekarang ini tentu tak ada di toko obat, tidak juga dapat diobati oleh dokter peraktek maupun dokter spesiali, para petugas rumah sakit, petugas puskesmas, para dukun, peramal atupun paranormal tetapi obatnya ini ada di tangan para pendidik yang bijaksana.
Kini resepnya sedang ditawarkan oleh menteri Pendidikan yang disebut dengan pendidikan berkarakter , sepertinya ada 18 nilai karakter yang ditawarkan sebagi suplemennya. Namun dalam dunia pendidikan Islam yang delapan belas itu terangkum menjadi empat yaiu: siddiq, amanah, tabliq, fathonah. Meskipun mendikbut telah mencanagkan pendidikan berkarakter, tetapi masih banyak pendidik yang merasa kesulitan untuk mencari model pembelajaran untuk mengobati penyakit yang saya sebutkan di atas.
Untuk kepentingan itu penulis menawarkan sebuah model Pembelajaran yang disebut SATE MLE ( Multi Level Education). Ikuti publikasi selanjutnya kotak hitam pendidikan
Jumat, 09 Desember 2011
Tokoh Matematika yang dikagumi
Gajah mati meninggalkan belang, namun manusia mati meninggalakan istri,anak, harta... salah ya? mestinya meninggalkan nama. Beberapa tokoh matematika muslim yang pernah tenar siapa itu ikuti tautan berikut
Teori Contructivist
Kini pembelajaran menggunakan tiori kontruktivisme dikembangkan, demi kemajuan pendidikan dan profeionalisme guru untuk mengembangkan itu perlu pondasi yang kuat
CONSTRUKTIVIST“Constructivist theory posits that students make sense of the world by synthesizing new experiences into what they have previously understood. They form rules through reflection on their interaction with objects and ideas. When they encounter an object, idea or relationship that does not make sense to them, they either interpret what they see to conform to their rules or they adjust their rules to better account for the new information.” (Brooks & Brooks, 1993) ,
KONSTRUKTIVISME "Teori Konstruktivis berpendapat bahwa siswa memahami dunia dengan sintesis pengalaman baru ke dalam apa yang mereka sebelumnya telah dipahami. Mereka membentuk peraturan melalui refleksi tentang interaksi mereka dengan objek dan ide. Ketika mereka menemukan sebuah objek, ide atau hubungan yang tidak masuk akal bagi mereka, mereka juga menafsirkan apa yang mereka lihat untuk menyesuaikan dengan aturan mereka atau mereka menyesuaikan aturan mereka ke yang lebih baik untuk informasi yang baru "(Brooks & Brooks, 1993).
untuk memulai informasi baru.Silahkan klik sebuah pondasi itu ikuti...
CONSTRUKTIVIST“Constructivist theory posits that students make sense of the world by synthesizing new experiences into what they have previously understood. They form rules through reflection on their interaction with objects and ideas. When they encounter an object, idea or relationship that does not make sense to them, they either interpret what they see to conform to their rules or they adjust their rules to better account for the new information.” (Brooks & Brooks, 1993) ,
KONSTRUKTIVISME "Teori Konstruktivis berpendapat bahwa siswa memahami dunia dengan sintesis pengalaman baru ke dalam apa yang mereka sebelumnya telah dipahami. Mereka membentuk peraturan melalui refleksi tentang interaksi mereka dengan objek dan ide. Ketika mereka menemukan sebuah objek, ide atau hubungan yang tidak masuk akal bagi mereka, mereka juga menafsirkan apa yang mereka lihat untuk menyesuaikan dengan aturan mereka atau mereka menyesuaikan aturan mereka ke yang lebih baik untuk informasi yang baru "(Brooks & Brooks, 1993).
untuk memulai informasi baru.Silahkan klik sebuah pondasi itu ikuti...
Soal Olimpiade, Soal UN
Kini ujian telah dekat. perlu perapan yang cukup bagi peserta didik utamanya kelas XII SMA/MA/SMK agar tidak melakukan contek. Contek itu sepertinya menunjukkan peserta didik sedang sakit, sakit dari rasa tidak percaya diri. Untuk itu ikuti tautan berikut
Kamis, 08 Desember 2011
Asiknya belajar matematika pakai HP
Untuk menambah semaraknya kemajuan teknologi utamanya pembelajaran lewat dunia maya, setidaknya pendidik dapat meningkatkan profesionalismenya melalui pembuatan bahan ajar lewat Mobile. Pingin meningkatan profesionalisme diri ikuti tautan berikut
Langganan:
Postingan (Atom)
